GUG8TfO5TUroBSApGfAiGSY8Gd==

Sekolah Politik Masyumi, Manimbang Kahariady Ajarkan Seni Retorika dan Protokoler dalam Politik

NUSANTARASITE.COM- Drs. Manimbang Kahariady, M.Si. menjadi narasumber dalam kegiatan Sekolah Politik Masyumi (SPM) Angkatan I Tahun Ajaran 2025/2026, Rabu (12/11/2025).

Dalam sesi bertema “Retorika dan Protokoler”, Manimbang menegaskan pentingnya kemampuan berbicara strategis bagi kader politik.

“Kata-kata adalah senjata, gunakan dengan strategi, bukan emosi. Yang menang bukan yang paling lantang berbicara, tapi yang paling tepat waktunya,” pesan Manimbang mengutip Sun Tzu saat menyampaikan materinya, Rabu (12/11/2025).

Wakil Ketua Umum DPN HKTI ini menjelaskan, retorika politik bukan sekadar kemampuan berbicara di depan umum, melainkan seni memengaruhi dan menggerakkan audiens dengan etika, logika, dan empati.

Mantan Sekjen Majelis Nasional Korps Alumni HMI (MN KAHMI) ini juga menjelaskan, Aristoteles mendefinisikan retorika sebagai kemampuan untuk melihat berbagai cara yang tersedia untuk memengaruhi orang lain dalam setiap situasi, sedangkan Plato menegaskan bahwa retorika sejati harus berlandaskan pada kebenaran.

“Retorika adalah ilmu yang mempelajari cara mengatur kata-kata agar menciptakan kesan yang diinginkan pada pendengar,” jelas Manimbang.

Dalam paparannya, ia menjabarkan bahwa fungsi retorika meliputi informasi, pendidikan, pengaruh, hiburan, dan aksi. Setiap pembicara, kata dia, perlu menguasai kelima fungsi tersebut agar pesan dapat disampaikan dengan efektif dan berkesan.

Selain menjelaskan fungsi, mantan Sekjen DPN HKTI ini juga mengurai jenis-jenis retorika, seperti monologika (pidato dan ceramah), dialogika (diskusi dan debat), serta retorika forensik, epideiktik, dan deliberatif sebagaimana dikemukakan oleh para ahli komunikasi klasik.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya strategi retorika yang terdiri atas lima unsur utama: penemuan (invention), penyusunan (arrangement), gaya (style), memori (memory), dan penyampaian (delivery).

“Retorika yang kuat tidak hanya soal isi, tapi juga bagaimana disusun dan disampaikan. Nada, tempo, jeda, hingga ekspresi wajah semuanya punya makna,” tutur Manimbang.

Dalam sesi yang sama, ia juga menyinggung teknik retorika protokoler, yang menjadi bagian penting dalam forum kenegaraan dan organisasi politik. Teknik tersebut meliputi pengaturan intonasi dan tempo, penggunaan jeda untuk penegasan, kontrol gestur tubuh, serta teknik menyapa audiens dengan wibawa.

Mantan Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dua periode ini mengingatkan bahwa banyak kesalahan umum terjadi saat berbicara di depan publik, seperti tidak memiliki alur yang jelas, intonasi monoton, kalimat bertele-tele, serta kurangnya kontak mata dengan audiens.

“Bicara datar dari awal sampai akhir bikin audiens mengantuk. Gunakan variasi nada sesuai emosi, naik saat semangat, turun saat pesan mendalam,” tegasnya.

Selain aspek teknis, Manimbang juga menyoroti kesalahan etika dalam berbicara di forum resmi, seperti salah menyebut nama atau jabatan, penggunaan bahasa tidak sopan, humor yang tidak pada tempatnya, hingga sikap tubuh yang kaku.

“Protokoler itu bukan sekadar aturan, tapi budaya hormat dan wibawa dalam berpolitik. Sopan santun adalah separuh dari iman,” pungkasnya.[]

Komentar0

Type above and press Enter to search.