GUG8TfO5TUroBSApGfAiGSY8Gd==

Manimbang Kahariady: Pimpinan Sidang adalah Desainer Utama Suksesnya Persidangan Munas atau Muktamar

NUSANTARASITE.COM— Sekolah Politik Masyumi (SPM) akan membuka Angkatan Pertama Tahun Ajaran 2025/2026 pada Mei 2025 mendatang.

Pada pertemuan perdana bertema “Retorika dan Protokoler” yang digelar Sabtu (15/11/2025), Drs. Manimbang Kahariady, M.Si. tampil sebagai narasumber utama dan memaparkan pentingnya retorika dalam kepemimpinan politik serta tata kelola persidangan.

Menurut Manimbang, retorika politik tidak semata kemampuan berbicara, tetapi seni memengaruhi dan menggerakkan audiens dengan etika, logika, dan empati.

“Secara teoritis, retorika politik bukan sekadar kemampuan berbicara di depan umum, melainkan seni memengaruhi dan menggerakkan audiens dengan etika, logika, dan empati,” ujarnya.

Ia mengutip pandangan tokoh klasik, bahwa Aristoteles melihat retorika sebagai kemampuan mengidentifikasi cara memengaruhi orang lain dalam setiap situasi, sedangkan Plato menekankan perlunya retorika berlandaskan kebenaran. 

“Retorika adalah ilmu yang mempelajari cara mengatur kata-kata agar menciptakan kesan yang diinginkan pada pendengar,” jelasnya.

Manimbang kemudian menjabarkan fungsi retorika yang meliputi penyampaian informasi, pendidikan, pengaruh, hiburan, dan aksi.

Ia juga mengurai jenis-jenis retorika seperti monologika, dialogika, serta retorika forensik, epideiktik, dan deliberatif.

Lebih jauh, ia menekankan lima unsur strategi retorika, yaitu penemuan (invention), penyusunan (arrangement), gaya (style), memori (memory), dan penyampaian (delivery).

“Retorika yang kuat tidak hanya soal isi, tapi juga bagaimana disusun dan disampaikan. Nada, tempo, jeda, hingga ekspresi wajah semuanya punya makna,” tuturnya.

Pada sesi yang sama, ia membahas teknik retorika protokoler yang kerap menjadi fondasi komunikasi dalam forum kenegaraan dan organisasi politik. Teknik tersebut mencakup pengaturan intonasi, tempo, jeda penegasan, kontrol gestur tubuh, hingga cara menyapa audiens dengan wibawa.

Ia juga mengingatkan sejumlah kesalahan umum saat berbicara, seperti alur tidak jelas, intonasi monoton, kalimat bertele-tele, serta minim kontak mata. 

“Bicara datar dari awal sampai akhir bikin audiens mengantuk,” tegasnya.

Manimbang turut menyoroti aspek etika dalam forum resmi, mulai dari ketepatan menyebut nama dan jabatan, penggunaan bahasa yang sopan, humor sesuai tempat, hingga sikap tubuh yang tidak kaku.

“Protokoler itu bukan sekadar aturan, tapi budaya hormat dan wibawa dalam berpolitik. Sopan santun adalah separuh dari iman,” ujarnya.

6A sebagai Kunci Manajemen Persidangan

Secara praktis, Manimbang menekankan penerapan retorika dalam kegiatan protokoler Munas atau Muktamar.

Ia menyebut keberhasilan sidang sangat ditentukan kemampuan pimpinan sidang mengelola enam instrumen pokok atau 6A: audiens, auditorium, atmosfer, agenda, alat peraga, dan aparat keamanan.

“Kesuksesan muktamar atau munas itu ditentukan oleh kemampuan pimpinan sidang me-manage seluruh instrumen pokok persidangan,” ungkapnya.

Menurutnya, aparat keamanan tidak hanya yang terlihat di luar ruangan, namun bisa disisipkan sebagai peserta untuk meredam potensi eskalasi dalam sidang.

Namun, ia menilai hal yang lebih penting adalah antisipasi sebelum sidang melalui koordinasi dan penyamaan persepsi peserta agar pembahasan tidak keluar konteks. Di sinilah peran retorika bekerja melalui dua instrumen pokok sebagaimana teori Prof. Jalaludin Rahmat: kemampuan nalar dan kepekaan tinggi terhadap situasi.

“Kemampuan nalar untuk mematahkan argumentasi sehingga lawan bicara bisa menerima tanpa menimbulkan eskalasi, dan kemampuan sikap tanggap serta empati untuk membaca situasi,” jelasnya.

Forum yang Mencerminkan Kepribadian Organisasi

Manimbang menegaskan bahwa Munas atau Muktamar adalah etalase terbuka dari citra dan kepribadian organisasi. Karena itu, seluruh peserta harus memahami pentingnya menjaga perilaku dan suasana persidangan.

“Kalau tidak mampu menahan emosi maka meledak seperti lempar alat peraga, dan itu bisa terjadi di partai mana saja,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan kolektif kolegial dalam presidium. Koordinator pimpinan sidang harus bekerja didukung anggota presidium agar dinamika sidang tetap terkendali.

Manimbang menegaskan bahwa suksesnya Munas atau Muktamar sangat bergantung pada kualitas pimpinan sidang. Kemampuan mengelola enam elemen strategis secara terpadu menjadi faktor penentu jalannya forum.

“Kemampuan pimpinan sidang memanage esensial menentukan sukses tidaknya sebuah persidangan,” pungkasnya.

Komentar0

Type above and press Enter to search.